Pernahkah kamu merasa, saat berhadapan dengan rekan kerja yang perilakunya selalu membuat jengkel, atau tetangga yang seringkali memancing emosi, rasanya sulit sekali untuk tetap objektif? Hati berbisik, 'Dia pantas mendapatkan balasan setimpal,' atau 'Biarkan saja dia merasakan akibatnya.' Bahkan ketika kita tahu persis apa yang benar dan salah, dorongan untuk memihak diri sendiri atau kelompok yang kita sukai seringkali begitu kuat, sampai keadilan terasa seperti beban yang berat. Kelelahan batin akibat pergulatan ini bisa menguras energi, membuat kita gelisah, dan perlahan merusak kedamaian hati.
Pergulatan batin semacam ini adalah ujian sejati bagi jiwa. Ia menguji apakah prinsip kebenaran dan keadilan yang kita yakini mampu melampaui batas-batas emosi dan preferensi pribadi. Dalam kerangka Ahlus Sunnah wal Jamaah, keadilan (al-'adl) bukanlah sekadar tindakan lahiriah, melainkan cerminan kematangan spiritual dan kebersihan hati. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
'Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah dan saksi yang adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Ma'idah: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa kebencian, betapapun kuatnya, tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk berlaku adil. Ini adalah perintah yang menuntut pengendalian diri yang luar biasa, sebuah manifestasi dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Imam Al-Ghazali dalam karyanya yang monumental, Ihya' Ulumuddin, menjelaskan bahwa keadilan adalah salah satu pilar utama akhlak mulia. Beliau memandang al-'adl bukan hanya sebagai tindakan eksternal, melainkan sebagai keseimbangan internal jiwa (i'tidal), di mana akal sehat ('aql) mampu mengendalikan dorongan syahwat dan emosi amarah (ghadhab). Tanpa keseimbangan ini, hati akan cenderung memihak dan keadilan pun terdistorsi.
Maka, bagaimana kita menolong diri sendiri dan orang lain dalam situasi di mana keadilan terasa berat? Rasulullah ﷺ bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
'Tolonglah saudaramu, baik dia berbuat zalim maupun dizalimi.' Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami akan menolongnya jika dizalimi, tapi bagaimana kami menolongnya jika berbuat zalim?' Beliau menjawab, 'Engkau mencegahnya dari berbuat zalim, itulah menolongnya.' (HR. Bukhari)
Hadits ini mengajarkan kita bahwa menolong yang zalim berarti mencegahnya dari kezaliman. Ini adalah bentuk keadilan tertinggi, yang membutuhkan keberanian untuk menegakkan kebenaran tanpa memandang suka atau tidak suka. Berlaku adil, bahkan terhadap orang yang kita tidak sukai, adalah upaya serius untuk menata hati, membersihkannya dari noda dendam, dan melatihnya agar selalu tunduk pada perintah Allah. Ini adalah jalan menuju ketenangan batin yang hakiki, sebuah mahabbah yang tulus kepada Rasulullah ﷺ yang senantiasa mengajarkan akhlak mulia.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.