Pernahkah kamu merasa, di tengah hiruk pikuk tuntutan hidup dan ekspektasi sosial, ada saja permintaan yang datang menghimpit? Mungkin itu teman yang terus-menerus meminjam tanpa mengembalikan, atau sanak saudara yang seenaknya meminta bantuan di luar batas kemampuanmu. Hati ingin menolak, tapi lidah kelu. Ada ketakutan dibilang tidak peduli, dicap pelit, atau bahkan melukai perasaan orang lain. Akhirnya, kita mengiyakan, meski batin menjerit lelah, meski tahu diri sendiri akan terbebani, bahkan terluka.
Kelelahan batin semacam ini bukan sekadar persoalan manajemen waktu atau finansial. Ini adalah pertarungan antara keinginan untuk berbuat baik dengan kebutuhan untuk menjaga diri. Kita seringkali terjebak dalam lingkaran 'kebaikan semu', di mana tindakan kita didorong oleh rasa takut atau ingin menyenangkan orang lain, bukan karena ketulusan murni. Akibatnya, hubungan menjadi tidak seimbang, dan kita sendiri kehilangan energi spiritual yang berharga.
Dalam khazanah tasawuf, konsep al-hazm (ketegasan) bukanlah tentang kekasaran atau keangkuhan, melainkan tentang kebijaksanaan dalam menempatkan diri dan hak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, sering mengingatkan bahwa akhlak mulia adalah keseimbangan. Kebaikan yang melampaui batas kemampuan atau mengorbankan hak diri sendiri secara berlebihan, bisa berubah menjadi kelemahan yang justru tidak mendatangkan maslahat, baik bagi diri maupun orang lain. Tegas yang selandas hikmah adalah menjaga batasan agar kebaikan itu tetap pada porosnya, tidak menjadi beban yang merusak.
Lalu, bagaimana kita bisa bersikap tegas tanpa menyakiti? Kuncinya terletak pada kejujuran hati dan komunikasi yang bijak. Islam mengajarkan kita untuk berlaku adil, bahkan terhadap diri sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
(Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu supaya kamu berlaku tidak adil. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.) (QS. An-Nisa: 135). Ayat ini menegaskan pentingnya keadilan sebagai fondasi, termasuk keadilan terhadap hak-hak pribadi kita.Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Prinsip ini diperkuat oleh sabda Rasulullah ﷺ:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
(Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.) (HR. Ibnu Majah, Ahmad). Hadits ini adalah pijakan fundamental dalam etika Islam, mengajarkan kita untuk tidak mencari kerugian bagi diri sendiri, apalagi bagi orang lain. Bersikap tegas, dalam konteks ini, adalah upaya melindungi diri dari kerugian yang timbul akibat ketidakmampuan menolak, sekaligus menjaga hubungan agar tetap sehat dan bermartabat. Ini bukan egoisme, melainkan sebuah bentuk menjaga amanah atas diri yang Allah titipkan.Ketegasan yang lahir dari hati yang tercerahkan akan terpancar melalui bahasa yang santun, nada yang tenang, dan alasan yang jelas, bukan emosi. Ini adalah manifestasi dari kematangan spiritual, di mana kita tidak lagi bergantung pada validasi orang lain, melainkan pada ridha Allah semata. Ketika hati kita terhubung kuat dengan Sang Pencipta melalui istiqomah sholawat dan tadarus Al-Qur'an, keberanian untuk menempatkan batasan akan muncul secara alami, tanpa rasa bersalah yang berlebihan. Karena kita tahu, setiap keputusan yang diambil dengan niat tulus dan sesuai syariat, akan mendatangkan keberkahan.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.