Pernahkah hati Anda terasa perih, melihat anak yang Anda cintai justru acuh tak acuh saat temannya menangis atau terjatuh? Atau mungkin, di tengah kesibukan mengurus pekerjaan dan rumah tangga, Anda menyadari bahwa anak-anak lebih fokus pada gadget mereka ketimbang berinteraksi dengan lingkungan sekitar, apalagi merasakan kesusahan orang lain?
Keresahan ini bukan milik segelintir orang. Banyak orang tua kini bergulat dengan pertanyaan fundamental: bagaimana menanamkan empati pada anak di tengah arus individualisme yang kian deras? Kita tahu, pendidikan formal mengajarkan banyak hal, namun pembentukan karakter yang berlandaskan kasih sayang dan kepedulian seringkali terabaikan, atau setidaknya, terasa sulit untuk diajarkan secara langsung. Padahal, tanpa empati, seorang anak mungkin tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara kognitif, namun miskin dalam relasi sosial dan spiritual.
Dalam khazanah Islam, empati adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak mulia. Ia bukan sekadar perasaan kasihan, melainkan kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, sebuah cerminan dari hati yang hidup dan terhubung. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, menekankan bahwa salah satu pilar kebahagiaan sejati adalah memiliki hati yang lembut, yang mampu merasakan derita sesama dan tergerak untuk menolong. Ini adalah inti dari mahabbah, cinta yang melampaui diri sendiri, yang berakar pada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnus sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36). Ayat ini jelas menggarisbawahi pentingnya kebaikan dan kepedulian terhadap berbagai lapisan masyarakat, dari keluarga terdekat hingga orang asing, sebagai bagian integral dari ibadah kepada Allah.Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Empati tidak tumbuh begitu saja. Ia adalah hasil dari penanaman yang konsisten, sebuah proses tarbiyah (pendidikan dan pembinaan) yang dimulai dari teladan orang tua. Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan empati terbesar. Beliau bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini bukan sekadar ancaman, melainkan pengingat bahwa kasih sayang adalah mata uang universal yang akan kembali kepada pemiliknya. Jika kita ingin anak-anak kita disayangi dan memiliki hati yang lembut, maka kita harus terlebih dahulu mengajarkan dan menunjukkan kepada mereka arti kasih sayang.Maka, mulailah dari hal kecil. Ajak anak untuk memperhatikan orang-orang di sekitar mereka, ceritakan kisah-kisah Nabi ﷺ dan para sahabat yang penuh kepedulian, dan libatkan mereka dalam kegiatan sosial sesuai usia. Yang terpenting, jadilah teladan. Ketika kita sendiri rutin menyambung silaturahmi, membantu tetangga, atau bahkan sekadar tersenyum tulus kepada orang lain, anak akan menyerap nilai-nilai itu lebih dalam daripada seribu nasihat. Ini adalah istiqomah dalam pembinaan hati, baik bagi diri kita maupun anak-anak kita, yang pada akhirnya akan menumbuhkan generasi perindu Rasulullah ﷺ yang berhati mulia.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.