Pernahkah kamu merasa, meski sudah sering memuji anakmu dengan 'Hebat, Nak!' atau 'Pintar sekali kamu!', ia tetap terlihat kurang percaya diri? Atau bahkan, pujianmu justru membuatnya cemas untuk mencoba hal baru, takut jika tidak bisa mengulang 'kehebatan' yang kamu sanjung? Keresahan ini bukan isapan jempol belaka. Banyak orang tua, dengan niat terbaik, justru tanpa sadar menanamkan benih keraguan di hati buah hatinya.
Kita sering lupa bahwa pujian bukan sekadar rangkaian kata manis, melainkan sebuah cerminan dari niat dan pemahaman kita tentang tumbuh kembang jiwa. Pujian yang dangkal, yang hanya fokus pada hasil akhir atau bakat bawaan, bisa membentuk mentalitas yang rapuh. Anak akan merasa nilainya tergantung pada 'pintar' atau 'hebat'nya dia, bukan pada usaha, proses, atau bahkan keberaniannya untuk mencoba dan gagal. Ini adalah beban berat bagi jiwa kecil yang sedang mencari identitasnya.
Pujian yang Berakar pada Mahabbah dan Ikhlas
Dalam khazanah tasawuf, setiap tindakan, termasuk lisan kita, harus berakar pada niat yang tulus dan hati yang bersih. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, seringkali menekankan pentingnya ikhlas (ketulusan) dan niyyah (niat) dalam setiap amal. Pujian yang tulus, yang datang dari hati yang penuh cinta (mahabbah) dan keinginan untuk membangun, akan terasa berbeda. Ia tidak akan sekadar memuji hasil, tetapi mengapresiasi proses, kegigihan, dan keberanian anak. Ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, yang menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya? Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)
Ayat ini mengajarkan kita bahwa 'kalimat yang baik' (termasuk pujian) harus memiliki akar yang kuat, yakni niat yang benar dan hati yang bersih, agar dapat tumbuh menjulang dan berbuah manfaat secara berkelanjutan. Pujian yang hanya di bibir, tanpa akar keikhlasan, ibarat pohon tanpa akar yang mudah tumbang.
Membangun Kepercayaan Diri dengan Kelembutan Nabi ﷺ
Maka, bagaimana seharusnya kita memuji? Bukan berarti berhenti memuji, tetapi mengubah cara kita memuji. Pujilah usaha anak, ketekunannya, keberaniannya mencoba hal baru, atau bahkan caranya mengatasi kesulitan. Contoh: daripada 'Kamu pintar sekali!', coba 'Wah, Mama/Papa lihat kamu berusaha keras sekali menyelesaikan ini. Hebat usahamu, Nak!' Ini menggeser fokus dari identitas 'pintar' (yang bisa goyah jika gagal) ke 'usaha' (yang bisa diulang dan diperbaiki). Pendekatan ini selaras dengan ajaran Nabi ﷺ yang selalu menekankan rifq (kelembutan) dalam segala urusan.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.” (HR. Muslim)
Kelembutan dalam bertutur, termasuk dalam memberikan pujian, akan menghiasi jiwa anak, menumbuhkan rasa aman, dan membangun kepercayaan diri yang kokoh. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam karya-karyanya seringkali menyinggung bagaimana pembinaan jiwa yang benar memerlukan perhatian pada detail-detail kecil dalam interaksi, termasuk kata-kata yang kita pilih. Pujian yang lembut dan tepat sasaran adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental dan spiritual anak.
Menjadi Orang Tua yang Merindu Rasulullah ﷺ
Pada akhirnya, mendidik anak adalah perjalanan panjang pembinaan hati, baik hati anak maupun hati kita sendiri sebagai orang tua. Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ mengajarkan kita teladan kasih sayang dan kelembutan yang tiada tara. Dengan meneladani akhlak beliau, kita belajar bagaimana mencintai dan membimbing anak dengan cara yang membangun, bukan meruntuhkan. Mari kita mulai dari diri sendiri, membersihkan hati dan niat, agar setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi kalimat thayyibah yang menumbuhkan.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.