Jam makan siang datang lagi, kamu buru-buru menelan hidangan di depan mata sambil jari-jari masih sibuk membalas pesan kerja atau sekadar scroll media sosial. Perut memang terisi, tapi setelah suapan terakhir, kok rasanya ada hampa yang tertinggal? Bukan lapar fisik, melainkan semacam kekosongan batin yang sulit dijelaskan, seolah kenikmatan makanan itu hanya lewat begitu saja tanpa sempat menyentuh hati.
Fenomena ini bukan hal aneh di tengah kehidupan yang serba cepat. Kita seringkali memandang makan hanya sebagai rutinitas pengisi energi, pelarian dari penat, atau sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Padahal, dalam kacamata hikmah, setiap suapan yang masuk ke tubuh kita adalah manifestasi rezeki, sebuah anugerah langsung dari Sang Pencipta yang seharusnya disambut dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
Melampaui Sekadar Pengisi Perut
Makan, jika dilakukan dengan hati yang hadir, adalah jembatan menuju pengenalan diri dan Tuhan. Ia adalah pengingat bahwa kita ini makhluk yang lemah, yang setiap detiknya bergantung pada karunia-Nya. Doa sebelum dan sesudah makan, yang sering kita anggap sepele atau hanya sekadar hafalan, sejatinya adalah kunci untuk membuka pintu keberkahan dan kepuasan batin yang sejati. Tanpa doa, makanan bisa jadi hanya mengisi perut, namun gagal menyentuh ruh.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita adab yang mulia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk makan. Beliau bersabda:
إذا أكل أحدكم فليسم الله تعالى، فإن نسي في أوله فليقل: بسم الله أوله وآخره
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala (membaca Bismillah). Jika ia lupa menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).’” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Ini bukan sekadar ritual, melainkan penegasan bahwa setiap rezeki, setiap kenikmatan, datang dari Allah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa adab al-ta’am (etika makan) adalah bagian integral dari upaya seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengubah tindakan duniawi menjadi ibadah yang penuh kesadaran.Syukur Sebagai Pengikat Berkah
Demikian pula setelah selesai makan, kita diajarkan untuk bersyukur. Nabi ﷺ bersabda: من أكل طعامًا فقال: الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة، غفر له ما تقدم من ذنبه
Baca Juga
Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah
“Barangsiapa yang makan sesuatu kemudian dia mengucapkan, ‘Alhamdulillahilladzi ath’amani hadza wa razaqanihi min ghairi haulin minni wa la quwwatin (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku),’ niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi). Betapa agungnya janji ini! Hanya dengan pengakuan tulus atas karunia-Nya, dosa-dosa kita diampuni. Ini adalah manifestasi dari janji Allah dalam Al-Qur'an: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Syukur bukan hanya lisan, tapi kehadiran hati yang mengakui bahwa segala daya dan upaya kita takkan berarti tanpa izin-Nya.Ketika doa makan diabaikan, kita seolah-olah mengambil rezeki tanpa mengakui Pemberinya. Makanan itu mungkin mengenyangkan perut, tetapi kehilangan “ruh”-nya, keberkahannya. Hati pun tetap merasa kosong, gelisah, dan terus mencari kepuasan yang tak pernah tuntas. Ini adalah pelajaran dari para arif billah seperti Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam yang sering mengingatkan kita untuk senantiasa melihat Allah dalam setiap karunia-Nya, bukan terpaku pada karunia itu sendiri. Dengan doa, kita melatih diri untuk hidup dalam kesadaran Ilahi, mengubah setiap suapan menjadi zikir, setiap hidangan menjadi sarana mendekatkan diri.
Maka, mari kita mulai kembali. Jadikan setiap waktu makan sebagai momen refleksi dan syukur. Bukan hanya untuk mengisi perut, tapi untuk mengisi hati dengan mahabbah dan ketenangan. Bukan hanya sekadar menelan, tapi merasakan kehadiran Ilahi dalam setiap butir nasi, setiap tetes air. Ini adalah langkah kecil yang konsisten, namun memiliki dampak besar bagi ketenangan jiwa dan keberkahan hidup.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.