Kamu baru saja pulang, lelah setelah seharian berjibaku dengan tuntutan pekerjaan dan kemacetan kota. Niat hati ingin mencari ketenangan di rumah, namun rupanya ada tumpukan piring kotor yang belum dicuci, atau anak-anak yang bertengkar tak henti. Secercah harapan akan damainya rumah tangga pun runtuh, berganti dengan letupan emosi yang tiba-tiba meluncurkan kata-kata tajam, menusuk hati orang yang paling kita cintai.
Seringkali, setelah amarah reda, penyesalan datang menusuk lebih dalam. Kita merenungi, mengapa lisan yang seharusnya menjadi jembatan kasih sayang, justru berubah menjadi pedang yang melukai? Luka dari kata-kata memang tak berdarah, namun ia mengukir jejak pahit yang tak mudah terhapus, bahkan bisa meretakkan bangunan ukhuwah yang telah lama kita bina. Inilah salah satu ujian terberat dalam rumah tangga, ketika batas kesabaran terlampaui dan kendali lisan lepas.
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin, jauh-jauh hari telah mengingatkan kita tentang betapa berbahayanya lisan. Beliau menyebutkan bahwa lisan adalah 'pintu gerbang' yang paling mudah tergelincir, sebab ia memiliki potensi besar untuk menumpuk dosa jika tidak dijaga. Ketika hati sedang kalut, lisan menjadi corong bagi segala kekeruhan batin, memuntahkan apa saja tanpa filter. Ini bukan hanya soal melukai orang lain, tapi juga mengotori hati kita sendiri dengan bibit-bibit penyesalan dan kegelisahan.
Padahal, Allah ﷻ telah dengan jelas memerintahkan kita untuk senantiasa bertutur kata yang baik. Firman-Nya dalam Al-Qur'an:
وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلْإِنسَٰنَ عَدُوًّا مُّبِينًا
'Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka.' Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.' (QS. Al-Isra: 53).
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setan senantiasa mencari celah untuk memecah belah, dan lisan yang tidak terjaga adalah senjata utamanya. Maka, menjaga lisan saat emosi memuncak adalah jihad batin yang tak kalah beratnya. Rasulullah ﷺ, teladan kita dalam segala hal, juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
'Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.' (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini bukan sekadar anjuran, melainkan pondasi keimanan. Diam bukan berarti kalah, melainkan bentuk kekuatan dan kebijaksanaan. Diam memberi ruang bagi hati untuk menenangkan diri, meredakan gejolak, dan berpikir sebelum bertindak atau berucap. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin juga banyak membahas tentang penyakit-penyakit hati yang bermuara pada lisan, dan betapa pentingnya menjaga hati sebagai akar dari segala kebaikan.
Maka, bagaimana kita bisa menanamkan istiqomah menjaga lisan ini? Kuncinya ada pada pembinaan hati yang terus-menerus. Ketika hati senantiasa terhubung dengan Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ, ia akan lebih mudah tenang, lebih sabar, dan lebih bijak dalam merespons gejolak emosi. Sholawat, sebagai ekspresi cinta kepada Baginda Nabi ﷺ, adalah salah satu jalan paling lembut untuk menenangkan hati yang bergolak. Ia mengalirkan energi positif, membasuh kekeruhan batin, dan mengingatkan kita pada akhlak mulia Rasulullah ﷺ yang senantiasa menjaga lisan dan tutur katanya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.