Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Kenapa Lisan Kita Justru Melukai Orang Terkasih Saat Emosi Memuncak?

Kamu baru saja pulang, lelah setelah seharian berjibaku dengan tuntutan pekerjaan dan kemacetan kota. Niat hati ingin mencari ketenangan di rumah, namun rupanya...

Kenapa Lisan Kita Justru Melukai Orang Terkasih Saat Emosi Memuncak?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Kamu baru saja pulang, lelah setelah seharian berjibaku dengan tuntutan pekerjaan dan kemacetan kota. Niat hati ingin mencari ketenangan di rumah, namun rupanya ada tumpukan piring kotor yang belum dicuci, atau anak-anak yang bertengkar tak henti. Secercah harapan akan damainya rumah tangga pun runtuh, berganti dengan letupan emosi yang tiba-tiba meluncurkan kata-kata tajam, menusuk hati orang yang paling kita cintai.

Seringkali, setelah amarah reda, penyesalan datang menusuk lebih dalam. Kita merenungi, mengapa lisan yang seharusnya menjadi jembatan kasih sayang, justru berubah menjadi pedang yang melukai? Luka dari kata-kata memang tak berdarah, namun ia mengukir jejak pahit yang tak mudah terhapus, bahkan bisa meretakkan bangunan ukhuwah yang telah lama kita bina. Inilah salah satu ujian terberat dalam rumah tangga, ketika batas kesabaran terlampaui dan kendali lisan lepas.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin, jauh-jauh hari telah mengingatkan kita tentang betapa berbahayanya lisan. Beliau menyebutkan bahwa lisan adalah 'pintu gerbang' yang paling mudah tergelincir, sebab ia memiliki potensi besar untuk menumpuk dosa jika tidak dijaga. Ketika hati sedang kalut, lisan menjadi corong bagi segala kekeruhan batin, memuntahkan apa saja tanpa filter. Ini bukan hanya soal melukai orang lain, tapi juga mengotori hati kita sendiri dengan bibit-bibit penyesalan dan kegelisahan.

Padahal, Allah SWT telah dengan jelas memerintahkan kita untuk senantiasa bertutur kata yang baik. Firman-Nya dalam Al-Qur'an:

وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلْإِنسَٰنَ عَدُوًّا مُّبِينًا

'Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka.' Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.' (QS. Al-Isra: 53).

Baca Juga
Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati

Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setan senantiasa mencari celah untuk memecah belah, dan lisan yang tidak terjaga adalah senjata utamanya. Maka, menjaga lisan saat emosi memuncak adalah jihad batin yang tak kalah beratnya. Rasulullah SAW, teladan kita dalam segala hal, juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

'Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.' (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini bukan sekadar anjuran, melainkan pondasi keimanan. Diam bukan berarti kalah, melainkan bentuk kekuatan dan kebijaksanaan. Diam memberi ruang bagi hati untuk menenangkan diri, meredakan gejolak, dan berpikir sebelum bertindak atau berucap. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin juga banyak membahas tentang penyakit-penyakit hati yang bermuara pada lisan, dan betapa pentingnya menjaga hati sebagai akar dari segala kebaikan.

Maka, bagaimana kita bisa menanamkan istiqomah menjaga lisan ini? Kuncinya ada pada pembinaan hati yang terus-menerus. Ketika hati senantiasa terhubung dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW, ia akan lebih mudah tenang, lebih sabar, dan lebih bijak dalam merespons gejolak emosi. Sholawat, sebagai ekspresi cinta kepada Baginda Nabi SAW, adalah salah satu jalan paling lembut untuk menenangkan hati yang bergolak. Ia mengalirkan energi positif, membasuh kekeruhan batin, dan mengingatkan kita pada akhlak mulia Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga lisan dan tutur katanya.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Kenapa Rasulullah SAW yang Maksum Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?
Renungan Mahabbah

Kenapa Rasulullah SAW yang Maksum Justru Beristighfar Seratus Kali Sehari?

06 Oct 2026
Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati
Renungan Mahabbah

Afat Artinya Apa? Penyakit Lisan yang Diam-Diam Menggerogoti Hati

06 Oct 2026
Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz
Renungan Mahabbah

Ketika Lisan Lebih Berat dari Seluruh Amal: Pesan Nabi kepada Mu'adz

05 Oct 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Renungan Mahabbah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

05 Oct 2026
Ketika Seorang Nabi Meminta Izin untuk Belajar: Adab Ilmu yang Terlupa
Renungan Mahabbah

Ketika Seorang Nabi Meminta Izin untuk Belajar: Adab Ilmu yang Terlupa

04 Oct 2026
Ayat Tematik dan Artinya: Mengapa Allah SWT Memilih Kata ‘Bersama’ Kesulitan?
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik dan Artinya: Mengapa Allah SWT Memilih Kata ‘Bersama’ Kesulitan?

04 Oct 2026
Kenapa Amal Baik Justru Bikin Lelah dan Merasa Tak Dihargai?
Renungan Mahabbah

Kenapa Amal Baik Justru Bikin Lelah dan Merasa Tak Dihargai?

03 Oct 2026
Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Diawali Kata Hamba?
Renungan Mahabbah

Doa Penenang Hati dan Pikiran yang Gelisah Arab: Mengapa Diawali Kata Hamba?

03 Oct 2026
Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?
Renungan Mahabbah

Kenapa Abu Bakar Tetap Menafkahi Orang yang Memfitnah Putrinya?

02 Oct 2026
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Hilang Satu dalam Hidup Kita
Renungan Mahabbah

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Hilang Satu dalam Hidup Kita

02 Oct 2026
Mengapa Syahid, Alim, dan Dermawan Justru Pertama Diseret ke Neraka?
Renungan Mahabbah

Mengapa Syahid, Alim, dan Dermawan Justru Pertama Diseret ke Neraka?

01 Oct 2026
Ketika Kerabat Melukai: Mengapa Silaturahmi Justru Diuji di Sana?
Renungan Mahabbah

Ketika Kerabat Melukai: Mengapa Silaturahmi Justru Diuji di Sana?

01 Oct 2026
Kenapa Rasulullah SAW Menaruh Sungai Itu Tepat di Depan Pintu Rumah Kita?
Renungan Mahabbah

Kenapa Rasulullah SAW Menaruh Sungai Itu Tepat di Depan Pintu Rumah Kita?

30 Sep 2026
Ayat Tematik Al Quran: Cara Sahabat Membaca yang Jarang Kita Tiru
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik Al Quran: Cara Sahabat Membaca yang Jarang Kita Tiru

30 Sep 2026
Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Salah Paham?
Renungan Mahabbah

Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Salah Paham?

29 Sep 2026
Raja yang Menempa Besi: Saat Kerja Mencari Ridha, Bukan Sekadar Gaji
Renungan Mahabbah

Raja yang Menempa Besi: Saat Kerja Mencari Ridha, Bukan Sekadar Gaji

29 Sep 2026
Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW
Renungan Mahabbah

Yang Diberikan Justru yang Tersisa: Rahasia Sedekah di Rumah Rasulullah SAW

28 Sep 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Renungan Mahabbah

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

27 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.