Jam 7 malam, azan Isya berkumandang, tapi pikiranmu masih sibuk menghitung sisa tagihan bulan ini. Atau mungkin, di tengah sujud, bayangan tumpukan pekerjaan di kantor tiba-tiba melintas, disusul kekhawatiran akan masa depan anak-anak. Kamu sudah berusaha khusyuk, mencoba fokus pada setiap bacaan, namun seolah ada magnet yang menarik hati pergi jauh, berputar-putar dalam pusaran dunia. Perasaan bersalah pun muncul, 'Apakah sholatku diterima? Kenapa sulit sekali menghadirkan hati sepenuhnya?'
Keresahan ini bukanlah hal baru, bahkan telah menjadi pergulatan batin para salafus shalih. Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, secara mendalam membahas tentang hudhur al-qalb (kehadiran hati) dalam sholat. Beliau menjelaskan bahwa khusyuk bukanlah sekadar menahan diri dari gerakan fisik, melainkan inti dari sholat itu sendiri: sebuah penyerahan total, di mana hati sepenuhnya menyadari kehadirat Allah ﷺ. Tanpa kehadiran hati, sholat bisa jadi hanya rangkaian gerakan kosong, seperti jasad tanpa ruh.
Namun, Al-Ghazali tidak menghakimi. Beliau justru memandang pikiran yang melayang sebagai bagian dari ujian dan perjuangan seorang hamba. Dunia dengan segala hiruk-pikuknya memang dirancang untuk menarik perhatian kita. Maka, usaha menghadirkan hati adalah jihad yang tak pernah usai. Allah sendiri telah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Baca Juga
Gersangnya Hati di Mushola yang Berdebu: Hikmah Thaharah dalam Ihya' Ulumuddin
Ayat ini menegaskan bahwa sholat memang 'berat', kecuali bagi mereka yang khusyuk. Ini bukan berarti kita harus putus asa jika belum khusyuk, melainkan sebuah undangan untuk terus berusaha dan memohon pertolongan. Kekhusyukan bukanlah tujuan akhir yang dicapai sekali waktu, melainkan sebuah proses penyucian hati yang berkelanjutan. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan kita untuk tidak terlalu terpaku pada hasil, melainkan pada keikhlasan dalam berusaha. Hati adalah raja bagi tubuh, dan jika hati baik, maka seluruh amal pun akan baik, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad itu, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, kunci untuk menjaga kekhusyukan adalah membersihkan dan membina hati itu sendiri. Bukan dengan paksaan yang kaku, melainkan dengan menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan lebih mudah terpaut pada Dzat yang dicintai, bahkan di tengah badai pikiran. Ini adalah perjalanan pembinaan hati yang konsisten, langkah kecil setiap hari, tanpa tekanan berlebihan, dan tanpa ajang pamer jumlah. Kita hanya perlu terus mencoba, terus kembali, dan yakin bahwa setiap usaha kita dilihat dan dinilai oleh-Nya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.