Pernahkah kamu merasa, di tengah janji suci sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang begitu agung, justru hati terasa berat dan langkah tertatih untuk sekadar menambah ibadah? Notifikasi pekerjaan terus menumpuk, tuntutan rumah tangga tak ada habisnya, atau mungkin beban pikiran tentang masa depan yang belum menentu, membuat semangat spiritual terasa meredup, bahkan di hari-hari yang paling mulia sekalipun.
Keresahan semacam ini bukanlah hal aneh. Banyak dari kita, para pejuang di tengah dunia yang serba cepat ini, seringkali merasa terimpit antara keinginan hati untuk mendekat kepada-Nya dan realitas hidup yang menuntut banyak energi. Rasa bersalah mungkin menghinggapi, seolah kita melewatkan 'pesta' spiritual yang begitu besar. Namun, hikmahnya terletak pada pemahaman bahwa Allah ﷻ tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Justru, Dia melihat ketulusan dan upaya, sekecil apa pun itu.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah periode istimewa yang kemuliaannya tak tertandingi. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
'Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).' (HR. Bukhari). Hadits ini menunjukkan betapa besar nilai setiap kebaikan yang kita lakukan, bahkan yang paling sederhana sekalipun, di waktu-waktu mulia ini. Kuncinya adalah istiqomah, bukan kuantitas yang membebani.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan pentingnya 'ikhlas' dan 'istiqomah' dalam beribadah. Beliau mengajarkan bahwa amal kecil yang dilakukan secara konsisten dan tulus, jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada amal besar yang dilakukan sesekali dengan riya’ atau keterpaksaan. Ini adalah pengingat bahwa Allah ﷻ menghargai niat dan kesungguhan hati, bukan sekadar capaian fisik. Jadi, jika kita hanya mampu bersholawat beberapa kali atau membaca selembar Al-Qur'an di sela kesibukan, lakukanlah dengan sepenuh hati, tanpa merasa kurang.
Baca Juga
Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah
Allah ﷻ sendiri bersumpah dengan waktu-waktu yang mulia, termasuk sepuluh malam ini:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
'Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.' (QS. Al-Fajr: 1-2). Sumpah ini menegaskan keagungan periode tersebut, bukan sebagai beban, melainkan sebagai undangan untuk mendekat. Dengan demikian, tugas kita adalah merespons undangan ini dengan cara terbaik yang kita mampu, dengan hati yang penuh mahabbah kepada-Nya dan Rasulullah ﷺ, tanpa tekanan untuk mencapai angka tertentu.
Maka, mari kita ubah perspektif. Sepuluh hari Dzulhijjah bukan tentang berlomba siapa yang paling banyak beribadah hingga kelelahan, melainkan tentang siapa yang paling tulus menyemai benih mahabbah di hatinya, walau dengan langkah kecil yang konsisten. Sholawat harian, tadarus beberapa ayat Al-Qur'an, atau sekadar dzikir singkat di sela aktivitas, bisa menjadi jembatan hati kita menuju kedamaian dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Ini adalah pembinaan hati, bukan ajang pamer.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.