Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Itsar dalam Keluarga: Mengajarkan Anak Berbagi Bukan Sekadar Memberi

Sudah berapa kali kamu menengahi pertengkaran kecil di rumah? Mungkin karena satu mainan, satu porsi biskuit, atau bahkan rebutan tempat duduk di sofa. Hati ras...

Itsar dalam Keluarga: Mengajarkan Anak Berbagi Bukan Sekadar Memberi
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Sudah berapa kali kamu menengahi pertengkaran kecil di rumah? Mungkin karena satu mainan, satu porsi biskuit, atau bahkan rebutan tempat duduk di sofa. Hati rasanya campur aduk antara lelah, jengkel, dan bertanya-tanya: 'Kenapa sulit sekali mengajarkan mereka berbagi?' Kita sudah berulang kali menasihati, kadang dengan lembut, kadang dengan sedikit penekanan, namun esok hari drama yang sama terulang lagi. Seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalangi mereka untuk melepaskan 'milikku' demi 'milikmu'. Kegelisahan ini wajar, sebab di baliknya tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana menanamkan kebaikan yang sejati, bukan hanya sekadar kepatuhan sesaat?

Permasalahan berbagi antar saudara kandung ini bukan hanya tentang mainan yang berpindah tangan, melainkan refleksi dari pergulatan batin yang lebih besar: ego dan kepemilikan. Dalam tasawuf, para ulama mengenalkan konsep 'Itsar', sebuah puncak kemuliaan akhlak yang melampaui sekadar berbagi. Itsar berarti mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, bahkan ketika kita sendiri dalam keadaan membutuhkan. Ini bukan hanya tentang memberi sisa, tapi memberi dari apa yang kita cintai, dari apa yang kita butuhkan. Itsar adalah manifestasi cinta yang murni, yang berakar dari hati yang telah terpaut pada kebaikan universal.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an, menggambarkan kaum Ansar yang memiliki sifat Itsar yang luar biasa:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka (Muhajirin dan Ansar) mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sangat memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ayat ini bukan hanya pujian, melainkan peta jalan menuju keberuntungan sejati, yang dimulai dari menundukkan syahwat diri akan kepemilikan. Kekikiran diri, sebagaimana disebut dalam ayat ini, adalah penghalang utama Itsar, dan itulah yang seringkali kita saksikan dalam bentuk perebutan mainan anak-anak.

Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin* menegaskan bahwa akhlak mulia seperti Itsar adalah hasil dari perjuangan batin yang panjang, dimulai dari mengenali dan menundukkan hawa nafsu. Beliau mengajarkan bahwa mendidik anak bukan hanya mengisi kepala dengan aturan, melainkan membentuk hati agar mencintai kebaikan. Itsar dalam keluarga, oleh karena itu, bukanlah sekadar perintah 'bagi dua!', melainkan penanaman benih *mahabbah* (cinta) yang tulus kepada saudara. Ketika anak mampu melihat saudaranya sebagai bagian dari dirinya, atau bahkan sebagai prioritas, di situlah Itsar mulai bersemi. Ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Baca Juga

Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini meletakkan pondasi Itsar dalam iman itu sendiri.

Maka, bagaimana kita menanamkan Itsar, bukan sekadar berbagi yang terpaksa? Dimulai dari teladan. Anak-anak adalah peniru ulung. Ketika mereka melihat orang tua mendahulukan kebutuhan pasangan, mengalah demi kebaikan bersama, atau berbagi dengan tetangga, mereka menyerap esensi Itsar tanpa perlu banyak kata. Ciptakan atmosfer rumah yang penuh kasih sayang, di mana setiap anggota keluarga merasa dihargai dan dicintai. Rayakan setiap tindakan kecil Itsar yang ditunjukkan anak, sekecil apa pun itu, dan kaitkan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah pembinaan hati, bukan sekadar pelatihan perilaku.

Mengajarkan Itsar adalah perjalanan panjang menumbuhkan *mahabbah* dan *ukhuwah* sejati dalam keluarga, yang kelak akan meluas ke masyarakat. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun generasi perindu Rasulullah ﷺ, yang hatinya lembut, penuh kasih, dan tidak terbelenggu oleh ego. Sebuah langkah kecil dalam mendidik anak untuk berbagi, sesungguhnya adalah fondasi untuk membangun jiwa yang besar, yang mampu melihat kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaannya sendiri.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Mengapa Hati Terasa Kosong Meski Sudah Berkorban Banyak? Kuncinya Ada pada Rindu Nabi ﷺ

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Sandal Jepit Putus Menjadi Guru Hikmah: Refleksi Tawakkal dalam Keseharian

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan

28 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Ibadah Jadi Ajang Lomba: Benarkah Itu Teladan Rasulullah ﷺ?

27 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kekhawatiran Memeluk Hati: Ibu Tangguh Mencari Berkah dalam Keterbatasan

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Resep Ketenangan Ala Rasulullah ﷺ: Mengapa 'Healing' Modern Sering Kali Gagal?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Makrifat: Ketika Hati Melampaui Ritual, Menemukan 'Mengapa' di Balik Kehidupan

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Zuhud Nabi Isa: Ketika Harta dan Derajat Tak Lagi Menjadi Ukuran Hati

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Cermin Diri yang Terlupakan: Hikmah Muhasabah di Tengah Gelombang Penilaian

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mengapa Hati Masih Tercekik Cemas, Meski Pandemi Telah Berlalu?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mawaddah fil Qurbā: Konsep Cinta Ahlul Bait yang Menghidupkan Hati

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Inna Lillahi: Mengajarkan Hakikat Kembali kepada Anak di Tengah Duka

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Mengapa Anak Sulit Menepati Janji? Hikmah Amanah untuk Hati yang Tenang

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Anak Sulit Diatur: Mengapa Adab Harus Diajarkan Sejak Balita?

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Keberhasilan Saudara Justru Membakar Hati: Mengurai Simpul Dengki

26 Jun 2026
Renungan Mahabbah

Kalah Debat, Menang Hati: Hikmah Meninggalkan Perdebatan Tak Perlu

26 Jun 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--