Jam empat sore, notifikasi dari grup keluarga masuk: 'Jangan lupa nanti malam makan di rumah Ibu ya.' Seketika, bukan hanya perut yang terasa lapar membayangkan hidangan, tapi juga ada semacam beban tak kasat mata yang menyelinap ke dada. Bukan karena tidak sayang, justru karena ingin memberikan yang terbaik, namun seringkali kecemasan itu muncul: apakah perkataanku nanti akan tepat? Apakah sikapku akan diterima? Apakah kehadiranku benar-benar membawa kehangatan, atau justru menciptakan jarak tak terlihat?
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keresahan semacam ini seringkali melanda, bahkan pada mereka yang sangat mencintai pasangannya. Rumah mertua, bagi sebagian, terasa seperti medan ujian kesantunan yang tak berkesudahan. Di balik senyum dan sapaan, ada ketakutan akan salah ucap, kekhawatiran dinilai kurang, atau beban untuk selalu tampil sempurna. Ini bukan sekadar persoalan etiket, tapi pergulatan batin yang mendalam, tentang keinginan untuk diterima seutuhnya dan membangun jembatan hati yang kokoh dengan keluarga pasangan.
Baca Juga
Ketika Jiwa Merana dalam Lelah Rumah Tangga: Sabar Sejati Menurut Al-Ghazali
Adab Bukan Sekadar Tata Krama, Melainkan Pancaran Hati
Dalam tasawuf, adab bukanlah sekadar seperangkat aturan sopan santun yang dipaksakan dari luar. Lebih dari itu, adab adalah cerminan dari keadaan batin seseorang, pancaran dari hati yang bersih dan jiwa yang tunduk pada kebaikan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin berulang kali menekankan pentingnya ihsan, yakni berbuat baik seolah-olah kita melihat Allah, atau setidaknya menyadari bahwa Allah senantiasa melihat perbuatan kita. Ihsan inilah yang menjadi fondasi adab sejati, termasuk dalam berinteraksi dengan mertua.
Ketika niat berinteraksi dengan mertua didasari oleh ihsan, maka setiap ucapan dan tindakan kita akan dilandasi ketulusan, bukan karena ingin dipuji atau takut dicela. Al-Qur'an sendiri telah menggariskan pentingnya berbuat baik kepada kerabat, dan mertua adalah bagian tak terpisahkan dari ikatan kekerabatan yang baru terjalin. Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. An-Nisa: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa berbuat baik kepada kerabat (termasuk mertua sebagai 'dzil qurba' atau kerabat dekat) adalah perintah Ilahi, bukan sekadar pilihan. Ini adalah medan jihad untuk melatih hati agar senantiasa berprasangka baik (husnuzhon) dan sabar. Rasulullah ﷺ pun bersabda, "Tidaklah sesuatu yang diletakkan di timbangan pada hari kiamat lebih berat daripada akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi). Akhlak yang baik ini, dalam konteks mertua, berarti memahami, menghormati, dan berusaha menyelaraskan diri dengan nilai-nilai yang ada dalam keluarga mereka, tanpa kehilangan jati diri.
Membangun Mahabbah: Dari Usaha Menjadi Rasa
Terkadang, usaha kita untuk beradab terasa berat karena kita belum membangun mahabbah (cinta) yang tulus di hati. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan bahwa segala kesulitan yang kita alami adalah hadiah dari Allah untuk menguji dan membersihkan hati. Ketika berinteraksi dengan mertua terasa sulit, itu adalah panggilan untuk menengok ke dalam diri: apakah ada ego yang masih ingin diakui, atau prasangka yang masih bersemayam? Latihlah hati untuk melihat mertua sebagai jalan menuju keridhaan Allah, sebagai kesempatan untuk melatih kesabaran dan keikhlasan.
Dengan begitu, kunjungan ke rumah mertua bukan lagi menjadi beban, melainkan kesempatan untuk memperkuat tali silaturahim, menumbuhkan mahabbah, dan meraih pahala. Ini adalah proses pembinaan hati yang berkelanjutan, mirip dengan bagaimana kita membangun istiqomah dalam ibadah harian. Hati yang terbiasa tulus dalam setiap interaksi, akan menemukan kedamaian dalam setiap langkahnya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.