Jam-jam pulang kerja, kamu berpapasan dengan tetangga non-Muslim di depan gerbang rumah. Hati kecilmu mungkin ingin menyapa hangat, namun keraguan membayangi, takut salah langkah atau bahkan dianggap melanggar syariat. Senyummu tertahan, sapaanmu terasa kaku, dan terkadang, justru menghindar. Di tengah lingkungan yang makin beragam, interaksi dengan tetangga yang berbeda keyakinan seringkali menyisakan pertanyaan: bagaimana sebenarnya adab seorang Muslim dalam merajut hubungan baik dengan mereka yang tidak seiman, tanpa mengorbankan prinsip?
Dalam khazanah Islam, konsep husnul jiwar atau 'bertetangga dengan baik' adalah pilar penting dalam membangun masyarakat yang harmonis. Ini bukan sekadar anjuran, melainkan bagian integral dari akhlak seorang Muslim yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Bertetangga baik tidak mengenal sekat keyakinan, ras, atau status sosial. Ia adalah manifestasi dari rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi semesta alam, yang diemban oleh risalah kenabian.
Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada siapa saja, termasuk tetangga. Firman-Nya dalam Al-Qur'an:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
'Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.' (QS. An-Nisa: 36).
Ayat ini jelas menyebut 'tetangga dekat dan tetangga jauh', yang dalam tafsir para ulama, mencakup tetangga Muslim maupun non-Muslim. Kebajikan yang diperintahkan bersifat universal, melampaui batas-batas iman.
Kedalaman ajaran ini diperkuat oleh sabda Rasulullah ﷺ. Beliau begitu menekankan hak tetangga, hingga para sahabat mengira tetangga akan menjadi ahli waris:
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
'Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang tetangga, sehingga aku mengira tetangga akan mewarisi.' (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini bukan hanya tentang warisan harta, melainkan warisan hak dan kewajiban untuk saling menjaga dan menghormati. Sapaan tulus, senyuman ramah, hingga uluran tangan saat mereka membutuhkan, adalah wujud nyata dari warisan adab kenabian ini.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa akhlak mulia (husnul khuluq) adalah fondasi penting dalam berinteraksi sosial, dan ini berlaku untuk semua manusia. Beliau menekankan bahwa mu'asyarah bil ma'ruf, yaitu bergaul dengan baik, adalah cerminan ketakwaan seseorang. Artinya, kebaikan budi pekerti kita tidak boleh terbatas pada lingkup internal umat Islam saja, tetapi harus meluas menjadi rahmat bagi lingkungan sekitar, tanpa membedakan keyakinan. Ini adalah dakwah bil hal yang paling efektif, menyentuh hati tanpa kata-kata.
Lebih jauh, Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan, sejatinya bermula dari kejernihan hati (shafaul qalb) dan keikhlasan. Menyapa tetangga non-Muslim dengan tulus, bukan karena ingin dipuji atau mengharapkan balasan, melainkan semata-mata karena menjalankan perintah Allah dan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, akan memancarkan energi positif yang menenangkan. Ini adalah pembinaan hati, di mana mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya termanifestasi dalam tindakan nyata yang merangkul.
Ketika kita mampu melampaui keraguan dan kekhawatiran, dan memilih untuk menyapa dengan tulus, kita sedang membangun jembatan ukhuwah yang kokoh. Kita sedang meneladani akhlak Nabi ﷺ yang damai dan penuh cinta, menyebarkan ajaran Islam bukan melalui paksaan, melainkan melalui keindahan budi pekerti. Sholawat yang kita lantunkan setiap hari, sejatinya adalah energi cinta yang membimbing kita untuk berbuat baik kepada sesama, tanpa syarat. Ini adalah bagian dari misi kita untuk menjadi generasi perindu Rasulullah, yang bukan hanya mencintai beliau dalam hati, tapi juga mencontohkan akhlak beliau dalam setiap langkah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.