Jam delapan malam, meja belajar anak kita penuh buku pelajaran, laptop menyala untuk tugas daring, dan jadwal les privat sudah menanti esok hari. Kita, sebagai orang tua, merasa lega sekaligus bangga melihat kegigihan mereka mengejar ilmu dunia. Namun, pernahkah terbersit kegelisahan: di tengah semua pencapaian akademik itu, mengapa hati terasa hampa saat anak enggan menyentuh Al-Qur'an atau malas sholat berjamaah?
Keresahan ini bukan tanpa alasan. Kita seringkali terperangkap dalam dikotomi yang keliru: seolah ilmu dunia adalah satu hal, dan ilmu agama adalah hal lain yang terpisah, bahkan sering bertentangan. Kita mati-matian mendorong anak meraih gelar tinggi, sementara pendidikan hati dan ruhani kerap menjadi prioritas kedua, atau bahkan sekadar 'pelengkap'. Padahal, dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, ini adalah pemahaman yang mematahkan kedua sayap penting dalam kehidupan seorang manusia.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, berulang kali mengingatkan kita bahwa ilmu dan iman bukanlah dua entitas yang saling bersaing, melainkan dua sayap yang harus dikembangkan secara seimbang agar manusia dapat terbang menuju kesempurnaan hakiki. Beliau memandang ilmu yang bermanfaat adalah yang mendekatkan pelakunya kepada Allah, baik itu ilmu agama maupun ilmu dunia yang dilandasi niat luhur. Ilmu tanpa iman akan menjadi pedang tanpa kendali, sementara iman tanpa ilmu akan mudah goyah dan tersesat.
Inilah yang ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
(Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan). (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini dengan jelas menyebutkan iman (kepercayaan) dan ilmu (pengetahuan) secara bersamaan sebagai faktor peningkat derajat. Bukan salah satu saja, melainkan keduanya, saling menguatkan.Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Lalu, bagaimana menumbuhkan minat anak pada keduanya tanpa paksaan? Kuncinya adalah mahabbah, cinta. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik yang mengajarkan kita bahwa ilmu yang paling agung adalah yang menumbuhkan cinta kepada Sang Pencipta dan makhluk-Nya. Beliau tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga akhlak mulia dan cara berpikir yang mendalam. Mengajarkan anak ilmu pengetahuan haruslah dibarengi dengan menanamkan kecintaan pada proses belajar itu sendiri, dan lebih penting lagi, kecintaan pada Dzat yang menganugerahkan ilmu tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
(Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga). (HR. Muslim). Hadits ini tidak membatasi jenis ilmu, selama ia bermanfaat dan diniatkan karena Allah. Tugas kita sebagai orang tua adalah menunjukkan bahwa setiap ilmu, dari matematika hingga fikih, adalah jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang ciptaan dan kebesaran-Nya. Ini membutuhkan istiqomah, langkah kecil yang konsisten, bukan tekanan atau tuntutan berlebihan, melainkan pembinaan hati yang sabar.Membangun generasi perindu Rasulullah ﷺ yang berilmu dan beriman adalah cita-cita luhur. Ini dimulai dari rumah, dari hati yang tenang, dan dari teladan yang kita berikan. Ketika kita sendiri rutin menyemai mahabbah melalui sholawat dan tadarus Al-Qur'an, hati kita akan lebih lapang membimbing anak-anak. Sholawat adalah penyejuk jiwa, pembuka pintu hikmah, dan pengingat akan teladan sempurna Nabi Muhammad ﷺ, yang tak pernah memisahkan ilmu dari iman.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.