Malam tiba, lampu kamar anak-anak sudah padam. Namun, di benakmu, suara-suara perbandingan tentang si kembar masih berdengung. 'Si A lebih pintar, si B lebih kalem.' Atau, 'Kok si C lebih cepat jalan daripada si D?' Setiap komentar, meski mungkin tak berniat buruk, terasa seperti sayatan tipis yang mengikis hatimu sebagai orang tua. Kamu tahu, anak-anakmu unik, tapi tekanan dari lingkungan—bahkan dari diri sendiri—seringkali membuatmu lelah batin, bertanya-tanya, 'Apakah aku sudah adil?'
Kelelahan batin semacam ini bukan sekadar perasaan sesaat. Ia bisa mengendap, menciptakan kegelisahan yang mendalam. Di satu sisi, ada rasa bangga melihat si kembar tumbuh bersama; di sisi lain, ada beban berat untuk memastikan keduanya merasa dicintai dan dihargai secara utuh, tanpa bayang-bayang saudaranya. Perbandingan, baik terang-terangan maupun tersirat, seringkali tanpa disadari menanam benih iri hati, rasa rendah diri, atau bahkan persaingan tidak sehat di antara mereka, mengikis fitrah keunikan yang Allah anugerahkan.
Setiap Jiwa Adalah Ayat Kebesaran
Dalam kacamata hikmah, setiap manusia adalah sebuah 'ayat' (tanda) dari kebesaran Allah. Allah menciptakan kita dengan keragaman yang luar biasa, bahkan di antara mereka yang lahir dari rahim yang sama. Bukankah sidik jari, suara, bahkan pola pikir kita berbeda? Al-Qur'an mengingatkan kita tentang hakikat keberagaman ini:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
'Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.' (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini, meski konteksnya tentang bangsa dan suku, secara fundamental mengajarkan kita untuk menghargai setiap ciptaan dalam keunikannya, bukan membandingkannya.Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, banyak membahas tentang penyakit hati seperti hasad (iri) dan ujub (bangga diri), yang kerap muncul dari perbandingan. Beliau mengajarkan bahwa kunci kebahagiaan dan keadilan adalah melihat setiap individu dengan lensa mahabbah (cinta) yang tulus, mengakui potensi dan ujian masing-masing, tanpa mengukur mereka dengan standar orang lain. Tugas orang tua, menurut hikmah ini, adalah memupuk fitrah anak-anaknya sesuai dengan keunikan mereka, bukan memaksanya masuk ke dalam cetakan yang sama.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Keadilan Hati: Fondasi Mengasuh Tanpa Perbandingan
Keadilan dalam mendidik bukan hanya soal membagi materi secara sama, melainkan juga keadilan dalam memberi perhatian, pujian, dan kasih sayang yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Rasulullah ﷺ sendiri menekankan pentingnya keadilan ini, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele. Diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir RA, bahwa ayahnya pernah memberi hadiah kepada salah satu anaknya, lalu Nabi ﷺ bersabda:
أَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَ مِثْلَ هَذَا قَالَ لَا قَالَ فَارْجِعْهُ
'Apakah semua anakmu engkau berikan seperti ini?' Ia menjawab, 'Tidak.' Nabi bersabda, 'Maka kembalikanlah.' (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini, meskipun konteksnya materi, mengajarkan prinsip keadilan yang luas, termasuk dalam perlakuan emosional dan pengakuan potensi.Untuk bisa adil, hati orang tua haruslah tenang, bersih dari prasangka, dan penuh dengan mahabbah. Kegelisahan yang muncul dari tekanan sosial atau ekspektasi yang tidak realistis seringkali menghalangi kita melihat keindahan unik pada setiap anak. Pembinaan hati melalui istiqomah dalam beribadah adalah jalan untuk mencapai ketenangan ini. Ketika hati terhubung dengan sumber segala cinta, kita akan lebih mudah menerima dan merayakan keunikan setiap anak, tanpa terbebani oleh perbandingan duniawi yang fana.
Ketenangan hati untuk melihat keunikan setiap anak, untuk merangkul perbedaan mereka dengan cinta yang murni, adalah anugerah. Ia tak datang begitu saja, melainkan dipupuk melalui pembinaan hati yang istiqomah. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.