Pernahkah kamu merasakan, setelah berhari-hari berjibaku dengan proyek sulit di kantor, akhirnya hasil kerjamu diakui? Pujian berdatangan, senyum dari atasan, tepuk tangan dari rekan. Ada kelegaan, tentu. Tapi, di balik itu, pernahkah hatimu justru merasa sedikit ganjil, bahkan berat? Seolah ada beban tak terlihat yang menempel, antara takut riya', khawatir tak bisa mempertahankan, atau diam-diam merasa 'aku memang hebat'?
Fenomena ini bukanlah hal baru. Ia adalah bisikan halus yang kerap menyelinap saat kita berdiri di puncak apresiasi. Pujian, sejatinya, bisa menjadi ujian. Ia menguji kejernihan niat dan ketulusan hati. Jika tidak disikapi dengan bijak, pujian bisa memupuk 'ujub (rasa kagum pada diri sendiri) dan riya' (beramal agar dilihat orang), dua penyakit hati yang menggerogoti pahala dan keikhlasan. Hati yang tadinya bening, bisa keruh oleh fatamorgana kehebatan diri.
Rasulullah ๏ทบ, teladan kita yang sempurna, tak pernah sedikit pun tergelincir dalam 'ujub atau riya' meski beliau adalah makhluk termulia di sisi Allah. Beliau senantiasa mengajarkan untuk mengembalikan segala kebaikan kepada Sang Pemberi Kebaikan. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
ุฅูููู ุงูููููู ูุงู ููููุธูุฑู ุฅูููู ุตูููุฑูููู
ู ููุฃูู
ูููุงููููู
ู ูููููููู ููููุธูุฑู ุฅูููู ูููููุจูููู
ู ููุฃูุนูู
ูุงููููู
ู
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta benda kamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kamu." (HR. Muslim). Hadits ini mengingatkan kita bahwa yang terpenting bukanlah pujian manusia, melainkan penilaian Allah atas kejernihan hati dan keikhlasan amal.Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya *Ihya' Ulumuddin*, secara tegas mengingatkan akan bahaya 'ujub. Beliau menjelaskan bahwa 'ujub adalah pangkal kesombongan, yang membuat seseorang lupa akan karunia Allah dan mengira bahwa kebaikan itu berasal dari dirinya semata. Padahal, setiap kebaikan, setiap kemampuan, setiap nikmat yang kita terima, adalah murni anugerah dari-Nya. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam *Al-Hikam* bahkan mengajarkan, "Barangsiapa yang memuji dirimu atas sesuatu yang ada padamu, maka pujilah Dia (Allah) atas sesuatu yang tidak ada padamu." Ini adalah refleksi mendalam: pujian atas kebaikan kita harusnya mengarahkan kita untuk memuji Allah atas kekurangan kita yang telah ditutupi-Nya, atau atas anugerah yang tak terhingga.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Ketika pujian datang, tugas kita adalah mengembalikan hati pada porosnya: Allah. Sadari bahwa kebaikan yang ada pada diri kita hanyalah pinjaman, sebuah titipan, atau anugerah murni dari-Nya. Allah berfirman:
ู
ูุง ุฃูุตูุงุจููู ู
ููู ุญูุณูููุฉู ููู
ููู ุงูููููู ููู
ูุง ุฃูุตูุงุจููู ู
ููู ุณููููุฆูุฉู ููู
ููู ููููุณููู
"Segala kebaikan yang menimpamu datangnya dari Allah, dan segala keburukan yang menimpamu datangnya dari dirimu sendiri." (QS. An-Nisa: 79). Ayat ini adalah penawar paling mujarab dari racun 'ujub. Dengan menisbatkan segala kebaikan kepada Allah, kita terhindar dari jebakan ego dan justru semakin merasa kecil di hadapan keagungan-Nya.Sikap rendah hati ini bukan berarti menolak apresiasi atau merendahkan diri secara berlebihan. Ia adalah tentang kemurnian niat, tentang memelihara mahabbah (cinta) kepada Allah dan Rasulullah ๏ทบ agar tetap tulus. Ketika hati kita terpaut pada pujian manusia, ia akan mudah goyah. Namun, ketika hati hanya mencari ridha Allah, maka istiqomah dalam amal kebaikan, termasuk sholawat dan tadarus Al-Qur'an, akan terasa ringan dan penuh makna. Kita beramal bukan untuk dilihat, melainkan untuk mendekatkan diri pada-Nya, meneladani Rasulullah, dan membersihkan hati.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.