Pernah nggak, di tengah tumpukan cucian dan deadline kerja yang menanti, tiba-tiba kamu merasa ada yang hambar di rumah? Bukan soal pertengkaran besar, tapi semacam kekosongan yang perlahan menggerogoti kehangatan. Rasanya, setelah seharian berjibaku dengan segala urusan, jangankan berdandan, sekadar menyisir rambut pun sudah jadi kemewahan yang tak terjangkau. Daster lusuh jadi 'seragam perang' harian, rambut diikat seadanya, dan sisa-sisa aroma dapur melekat erat. Kita seringkali berpikir, 'Ah, dia kan sudah tahu aku apa adanya,' dan melupakan bahwa ada dimensi lain yang perlu terus dipupuk: dimensi mahabbah, cinta yang tumbuh dari perhatian.
Kelelahan batin dan fisik memang nyata. Namun, dalam kacamata hikmah, menjaga penampilan di hadapan pasangan bukanlah sekadar urusan kosmetik, melainkan sebuah manifestasi dari penghargaan dan kasih sayang. Ini adalah adab al-mu'asyarah, etika pergaulan dalam rumah tangga, yang seringkali terabaikan di tengah riuhnya tuntutan hidup modern. Padahal, sentuhan sederhana pada diri sendiri adalah bahasa cinta yang mendalam, sebuah investasi emosional yang tak ternilai harganya.
Al-Qur'an sendiri mengajarkan prinsip dasar dalam berinteraksi dengan pasangan, sebagaimana firman Allah SWT:
ููุนูุงุดูุฑููููููู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู
โ...Dan bergaullah dengan mereka secara patut (baik).โ (QS. An-Nisa: 19)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa 'ma'ruf' (patut/baik) ini mencakup segala bentuk kebaikan, termasuk saling memperindah diri dan menjaga kenyamanan satu sama lain. Ia menekankan bahwa keharmonisan rumah tangga dibangun dari perhatian pada hal-hal kecil yang menumbuhkan rasa cinta dan hormat, bukan hanya pada kewajiban-kewajiban besar. Mempersembahkan diri dalam keadaan terbaik adalah salah satu bentuk 'ma'ruf' yang dapat melanggengkan kasih sayang.
Rasulullah ๏ทบ pun pernah ditanya mengenai ciri istri terbaik, dan beliau bersabda:
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
ุฎูููุฑู ุงููููุณูุงุกู ู
ููู ุชูุณูุฑูููู ุฅูุฐูุง ููุธูุฑูุชู ุฅูููููููุงุ ููุชูุทููุนููู ุฅูุฐูุง ุฃูู
ูุฑูุชูุ ููุชูุญูููุธู ุบูููุจูุชููู ููู ููููุณูููุง ููู
ูุงูููู
โSebaik-baik wanita adalah yang menyenangkanmu jika engkau melihatnya, menaatimu jika engkau perintah, dan menjaga dirimu serta hartamu ketika engkau tidak ada.โ (HR. An-Nasa'i)
Hadits ini, seperti dijelaskan oleh para ulama, bukan hanya tentang kecantikan fisik semata, melainkan tentang kesiapan seorang istri untuk senantiasa menghadirkan keindahan, baik lahir maupun batin, bagi suaminya. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin seringkali mengaitkan keindahan lahiriah dengan pancaran keindahan batin. Ketika hati dipenuhi mahabbah dan ketulusan, ia akan memancar menjadi tindakan nyata, termasuk keinginan untuk menyenangkan pandangan pasangan.
Tentu, ini bukan tentang tuntutan yang memberatkan, apalagi demi standar kecantikan duniawi. Ini adalah tentang riyadhah hati, latihan spiritual untuk senantiasa memberi yang terbaik, bahkan dalam hal yang terkesan sepele. Ketika kita merawat diri untuk pasangan, sejatinya kita sedang merawat mahabbah itu sendiri. Ini adalah ibadah tanpa syarat, yang tidak mengharapkan balasan, namun justru menjadi pupuk bagi kebahagiaan berdua. Ia adalah bentuk istiqomah dalam memuliakan ikatan suci, sebuah pengorbanan kecil yang berdampak besar pada kehangatan dan keutuhan rumah tangga.
Maka, mari kita renungkan sejenak. Adakah di antara kita yang tanpa sadar telah membiarkan daster lusuh menjadi simbol dari mahabbah yang mulai redup? Mengembalikan sentuhan keindahan dalam keseharian adalah langkah kecil yang dapat membawa kembali cahaya kehangatan. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun generasi perindu Rasulullah ๏ทบ, yang salah satunya tercermin dalam akhlak mulia dan kasih sayang dalam rumah tangga.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an โ klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.