Jam pulang kantor, jalanan macet, dan yang terlintas di benak bukan lagi makan malam apa, tapi bagaimana caranya agar bulan depan cicilan rumah bisa terbayar tanpa perasaan was-was. Kamu tahu betul ada pilihan 'mudah' di luar sana, skema pembiayaan yang terasa menjanjikan, tapi hati kecilmu terus berbisik tentang riba, tentang keberkahan yang mungkin hilang, dan tentang ketenangan yang tak bisa dibeli dengan harga berapa pun. Impian memiliki rumah sendiri terasa begitu dekat, namun sekaligus jauh, terbentur dilema antara kebutuhan dan ketaatan.
Keresahan ini bukan sekadar soal angka di rekening, melainkan pergulatan batin yang mendalam. Kita hidup di dunia yang serba cepat, di mana solusi instan seringkali mengaburkan batas halal dan haram. Namun, sebagai seorang Muslim, nurani kita tak bisa begitu saja mengabaikan peringatan Allah tentang riba, yang dampaknya bukan hanya pada harta, tetapi juga pada kedamaian jiwa. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang agung, Ihya' Ulumuddin, seringkali menekankan pentingnya wara' (kehati-hatian) dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam mencari nafkah dan memiliki harta. Beliau mengingatkan bahwa harta yang bercampur syubhat atau haram akan mengikis keberkahan, bahkan membuat amal ibadah terasa hambar dan doa sulit terkabul.
Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tegas membedakan antara jual beli yang halal dan riba yang haram. Dalam firman-Nya:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran sentuhan (penyakit gila). Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan sebuah gambaran tentang dampak spiritual dan mental yang ditimbulkan oleh riba, yaitu kegelisahan dan ketidakstabilan.
Maka, jalan menghindari riba, meskipun terasa terjal dan penuh kesabaran, sesungguhnya adalah jalan menuju ketenangan hati. Ini adalah wujud dari tawakkul, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, bahwa Dia akan mencukupi rezeki kita dari jalan yang halal. Hadits Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita prinsip kehati-hatian ini:
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa jatuh ke dalam perkara syubhat, ia telah jatuh ke dalam perkara haram.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menjaga diri dari syubhat, apalagi yang jelas haram seperti riba, adalah benteng bagi agama dan kehormatan kita.
Bagi para pejuang yang memilih jalan ini, kelelahan batin seringkali datang. Rasa cemas, iri melihat orang lain, atau godaan untuk mengambil jalan pintas bisa sangat kuat. Di sinilah peran pembinaan hati melalui sholawat dan tadarus Al-Qur'an menjadi sangat vital. Sholawat adalah jembatan cinta kepada Rasulullah ﷺ yang akan menenangkan jiwa, sementara Al-Qur'an adalah pelita yang membimbing kita dalam setiap langkah, menguatkan iman, dan menumbuhkan keyakinan akan janji Allah. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan bahwa ketenangan sejati hanya akan ditemukan ketika hati kita sepenuhnya bersandar pada Allah, bukan pada hasil duniawi yang fana.
Mungkin jalan untuk memiliki rumah tanpa riba terasa lebih panjang, lebih berliku, dan membutuhkan pengorbanan lebih. Namun, rumah yang dibangun di atas fondasi halal, dengan setiap cicilan yang diiringi doa dan keyakinan, akan membawa keberkahan yang tak ternilai. Ketenangan yang kita rasakan saat melangkah masuk ke dalamnya, saat anak-anak kita tumbuh di sana, adalah ketenangan yang tak bisa ditukar dengan kenyamanan sesaat yang ditawarkan riba. Ini bukan hanya tentang sebuah bangunan, melainkan tentang membangun sebuah keluarga yang diberkahi, sebuah kehidupan yang diridhai, dan sebuah hati yang selalu terhubung dengan-Nya.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.