Setiap kali melihat anak-anak lebih doyan jajanan kemasan daripada sayur di piring, hati kecil ini sering bertanya: salahkah kita sebagai orang tua dalam mendidik pola makan? Atau, ketika pulang kerja, badan sudah lelah, pikiran pusing memikirkan menu makan malam yang 'sehat' untuk keluarga, padahal di meja sudah ada cemilan instan yang lebih menggoda dan menjanjikan kepuasan instan. Kita tahu kesehatan itu penting, tapi entah mengapa, godaan untuk makan sekenanya, atau bahkan berlebihan, terasa begitu kuat, seolah ada beban tak kasat mata yang menghalangi kita untuk istiqomah.
Keresahan ini bukan hanya soal selera lidah, melainkan cerminan pergulatan batin di tengah tuntutan hidup modern. Jadwal padat, stres pekerjaan, hingga godaan iklan makanan cepat saji yang begitu masif, seringkali membuat kita berkompromi dengan prinsip hidup sehat. Kita tahu tubuh ini adalah amanah, tapi menjaga amanah ini terasa begitu berat, memicu kelelahan bukan hanya fisik, tapi juga batin. Akhirnya, pola makan yang tidak teratur dan cenderung berlebihan justru menjadi pelarian sementara dari penat, namun meninggalkan jejak gelisah dan penyesalan di kemudian hari.
Dalam kacamata Islam, persoalan makan bukan hanya tentang halal atau haram semata, melainkan juga tentang thayyib – baik dan menyehatkan. Tubuh yang sehat adalah modal utama untuk beribadah dan menjalankan peran kita di dunia ini dengan optimal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat ini bukan hanya perintah makan yang halal, tetapi juga yang thayyib, yang baik bagi tubuh dan jiwa. Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, secara mendalam membahas adab makan dan minum. Beliau mengingatkan bahwa perut adalah “rumah segala penyakit” (baitul dawa') dan kunci kesehatan lahir batin. Moderasi dalam makan, menurut Al-Ghazali, adalah fondasi penting untuk menjaga kejernihan hati dan pikiran, agar tidak terbebani oleh syahwat perut yang berlebihan. Ketika perut kenyang berlebihan, hati menjadi keras, akal tumpul, dan ibadah terasa berat. Ini adalah hikmah yang sering terlupakan di tengah gaya hidup serba cepat.
Baca Juga
Ketika Hati Anak Muda Merasa Hampa: Menemukan Makna Sejati Lewat Mahabbah
Ajaran Nabi Muhammad ﷺ juga secara tegas menekankan pentingnya moderasi. Beliau bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini bukan sekadar anjuran medis, melainkan panduan hidup yang melahirkan ketenangan batin. Moderasi bukanlah bentuk penyiksaan diri, melainkan upaya menjaga keseimbangan, agar tubuh kita tetap prima untuk menjalankan ketaatan dan meraih keberkahan. Ini adalah langkah kecil menuju istiqomah, sebuah pembinaan hati yang dimulai dari piring makan kita sendiri. Dengan niat yang lurus, setiap suapan makanan bisa menjadi bagian dari ibadah, menguatkan mahabbah kita kepada Allah dan Rasul-Nya, karena kita menjaga amanah tubuh ini demi beribadah kepada-Nya.
Maka, mari kita renungkan kembali. Mungkin, bukan hanya menu sehat yang kita butuhkan, melainkan niat yang sehat dan istiqomah dalam menjaganya. Ini adalah bagian dari perjalanan spiritual, sebuah upaya kecil namun konsisten untuk menghadirkan hikmah dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk di meja makan keluarga. Dengan demikian, piring kita bukan hanya berisi makanan, tapi juga keberkahan dan ketenangan hati.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.