Malam itu, setelah para tamu berpamitan, ada rasa sesal yang menyelinap dalam hati. Anak kita, yang sedari tadi asyik dengan dunianya, buru-buru masuk kamar tanpa menyapa, atau bahkan sekadar menoleh saat berpamitan. Kita tahu, ini bukan karena ia tak sayang, melainkan karena adab yang belum terpahat sempurna. Hati orang tua mana yang tak gundah melihat buah hatinya belum sepenuhnya memahami makna hormat dan santun dalam interaksi sosial?
Keresahan ini seringkali berujung pada pertanyaan: sudah berapa kali kita mengulang pelajaran 'salam', 'terima kasih', atau 'permisi'? Mengapa rasanya begitu sulit tertanam? Beban batin orang tua tak jarang bertambah, merasa gagal mendidik, padahal upaya tak pernah berhenti. Namun, mungkin ada sudut pandang yang terlupa, sebuah hikmah yang bisa membuka pintu pemahaman lebih dalam tentang esensi adab itu sendiri.
Dalam kacamata Ahlus Sunnah wal Jamaah, adab bukanlah sekadar tata krama sosial yang kaku, melainkan manifestasi dari kebersihan hati dan penghormatan terhadap sesama, yang pada akhirnya kembali kepada penghormatan kita kepada Sang Pencipta. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumuddin, secara gamblang menjelaskan bahwa adab lahiriah adalah cermin dari adab batiniah. Ia adalah buah dari tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, yang membuat seseorang secara otomatis memuliakan orang lain.
Ketika kita bertemu seseorang, atau saat berpisah, adab yang baik adalah bentuk memuliakan ciptaan Allah. Al-Qur'an sendiri mengajarkan prinsip ini:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
(Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.) (QS. An-Nisa: 86). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang membalas salam, tetapi juga tentang esensi penghormatan yang mendalam, yang dimulai dari kesadaran bahwa setiap interaksi adalah ladang pahala dan ujian hati.Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Rasulullah ﷺ adalah teladan adab tertinggi. Beliau mengajarkan adab bukan dengan bentakan, melainkan dengan lisan yang lembut dan perbuatan yang konsisten (uswah hasanah). Adab bertemu dan berpamitan, misalnya, adalah bagian dari memuliakan tamu dan menghargai waktu. Bahkan, ada janji agung bagi mereka yang membiasakan diri dengan salam. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
(Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.) (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa salam, sebagai bentuk adab pertemuan, adalah jembatan menuju mahabbah dan keimanan yang sempurna.Maka, mendidik anak tentang adab bertemu dan berpamitan bukanlah sekadar mengajarkan etiket, melainkan menanamkan benih mahabbah, rasa cinta dan hormat yang tulus. Ini adalah proses istiqomah, langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan berlebihan, dan murni pembinaan hati. Kita tidak sedang mendidik robot yang patuh, melainkan jiwa-jiwa yang kelak menjadi perindu Rasulullah ﷺ, yang akhlaknya terpancar dalam setiap gerak-gerik.
Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.