Pernahkah kamu merasa, di tengah diskusi yang awalnya hangat, tiba-tiba atmosfer berubah dingin? Sebuah perbedaan pendapat kecil, entah tentang pilihan liburan keluarga atau cara mendidik anak, mendadak membesar menjadi jurang yang memisahkan. Kata-kata yang terucap, meski niatnya mungkin baik, justru melukai. Malam itu, tidurmu tak nyenyak, memikirkan mengapa sebuah perbedaan bisa begitu menguras energi dan mengoyak ukhuwah yang telah lama terjalin.
Keresahan semacam ini bukan hal baru. Ia adalah luka batin yang kerap kita alami, baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, maupun komunitas. Kita seringkali lupa, bahwa inti dari sebuah perbedaan bukanlah siapa yang paling benar, melainkan bagaimana hati kita tetap terjaga dari riak-riak amarah, ego, dan keinginan untuk mendominasi. Perdebatan yang tak diiringi adab, seringkali hanya menyisakan keruhnya hati dan putusnya tali silaturahmi.
Dalam khazanah keilmuan Islam, para ulama telah mewariskan sebuah konsep agung yang disebut Adabul Ikhtilaf, atau adab dalam berselisih pendapat. Ini bukanlah ajakan untuk menghindari perbedaan, sebab perbedaan adalah fitrah kehidupan dan tanda keluasan ilmu Allah. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya niat tulus dalam setiap tindakan, termasuk saat mencari kebenaran. Adabul Ikhtilaf mengajarkan kita untuk mengelola perbedaan dengan kebijaksanaan, mengutamakan persatuan, dan menjaga kehormatan sesama, bukan untuk mencari kemenangan pribadi atau memamerkan keunggulan argumen.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini mengingatkan kita akan hakikat ukhuwah yang melampaui segala perbedaan. Persaudaraan iman adalah ikatan yang fundamental, yang menuntut kita untuk senantiasa mengupayakan perdamaian dan menjaga hubungan baik. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin banyak mengulas tentang penyakit hati yang seringkali menjadi pemicu perselisihan tak berkesudahan, seperti ujub (kagum diri), riya’ (ingin dilihat), dan hasad (dengki). Untuk itu, menjaga adab dalam berikhtilaf adalah manifestasi ketakwaan, sebuah upaya membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Bahkan Rasulullah ﷺ menjamin keutamaan bagi mereka yang mampu mengendalikan diri dari perdebatan. Beliau bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku jamin sebuah rumah di surga yang paling bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini adalah pencerahan bagi kita. Betapa tingginya nilai meninggalkan perdebatan, bahkan saat kita berada di pihak yang benar. Ini bukan berarti kita harus pasif terhadap kebenaran, melainkan sebuah undangan untuk mendahulukan hikmah, kesantunan, dan tujuan yang lebih besar: menjaga hati, ukhuwah, dan meneladani akhlak mulia Nabi ﷺ. Sebab, esensi dari perselisihan bukan untuk memenangkan argumen, melainkan untuk mendekatkan diri pada kebenaran dengan cara yang paling diridhai Allah.
Melatih Adabul Ikhtilaf adalah sebuah perjalanan panjang pembinaan hati. Ia menuntut kita untuk terus-menerus merenungi niat, menahan lisan, dan meluaskan dada. Ini adalah praktik mahabbah, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, yang termanifestasi dalam setiap interaksi kita. Dengan membiasakan diri bersholawat dan tadarus Al-Qur'an, kita sedang mengairi hati dengan ketenangan, menguatkan empati, dan menumbuhkan akhlak mulia yang menjadi cermin ajaran Rasulullah ﷺ. Dengan hati yang bersih, perbedaan pendapat tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.