Pernahkah kamu pulang dari rutinitas yang melelahkan, hanya untuk mendapati mainan anak berserakan di seluruh rumah, atau dompet kecilnya kosong padahal baru kemarin sore kamu isi? Hati rasanya campur aduk: antara lelah ingin marah, sedih melihat kurangnya penghargaan, dan bingung harus mulai dari mana mengajarkan tanggung jawab.
Keresahan ini bukan sekadar tentang uang atau barang, melainkan cerminan dari sebuah konsep mendalam dalam Islam yang sering kita lupakan: Adab al-Mal. Ini adalah adab dalam mengelola harta, baik milik sendiri maupun milik bersama, sebagai bentuk tanggung jawab seorang hamba. Ia bukan hanya tentang berapa banyak yang dimiliki, tapi bagaimana cara kita memandang, menggunakan, dan memelihara setiap titipan dari-Nya.
Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, harta dan anak adalah amanah sekaligus ujian. Keduanya bisa menjadi jembatan menuju kebaikan atau justru menjerumuskan jika tidak dikelola dengan hikmah. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
(QS. At-Taghabun: 15), yang artinya, 'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.' Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa harta sejatinya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan akhir yang membelenggu hati. Mengajarkan anak tentang adab ini berarti menanamkan kesadaran bahwa segala yang ada hanyalah pinjaman, yang kelak akan dipertanggungjawabkan.Bagaimana kita mengajarkan ini kepada anak-anak? Mulailah dari hal sederhana: menghargai barang milik bersama. Mainan di rumah, buku di perpustakaan, atau fasilitas umum adalah ladang pertama untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab. Ini melatih mereka memahami hak orang lain, yang merupakan fondasi penting dalam membangun ukhuwah atau persaudaraan. Ketika anak memahami bahwa barang yang ia gunakan juga milik saudaranya, ia akan belajar empati dan menjaga, jauh dari sikap egois atau merusak.
Baca Juga
Ketika Angka Merah di Rekening Mengikis Iman: Mencari Hikmah di Balik Kesusahan
Pelajaran berikutnya adalah qana'ah (merasa cukup) dan menjauhi israf (berlebihan). Di tengah gempuran promosi dan gaya hidup konsumtif, anak-anak mudah tergoda untuk menginginkan lebih. Padahal, kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada ketenangan jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
(HR. Muslim), yang artinya, 'Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati).' Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin banyak mengulas bagaimana keterikatan berlebihan pada dunia justru memenjarakan hati, sedangkan qana'ah membebaskannya.Pendidikan adab ini tidak bisa hanya melalui lisan. Orang tua adalah cermin utama. Anak-anak melihat bagaimana kita mengelola keuangan, merawat barang, dan berbagi. Istiqomah dalam memberikan teladan adalah kunci. Jika kita sendiri boros atau tidak peduli, mustahil anak akan menginternalisasi nilai-nilai ini. Setiap tindakan kecil kita, dari menaruh barang pada tempatnya hingga bersedekah, adalah pelajaran berharga bagi mereka.
Tujuan akhir dari Adab al-Mal ini adalah membangun generasi yang tidak hanya cerdas finansial, tetapi juga kaya hati, yang memahami bahwa setiap rezeki adalah karunia yang harus disyukuri dan dimanfaatkan di jalan kebaikan. Ini adalah langkah kecil menuju terwujudnya generasi perindu Rasulullah ﷺ, yang meneladani kesederhanaan, kedermawanan, dan kebijaksanaan beliau dalam setiap aspek kehidupan. Melalui pembinaan hati ini, kita berharap anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan sekadar mencintai dunia.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.