Malam ini banyak rumah menyalakan lampu, banyak masjid melantunkan sholawat, dan banyak hati merasa dekat dengan sosok yang lahir berabad-abad lalu. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan kepada diri sendiri: kalau beliau benar-benar berdiri di hadapan kita malam ini, apakah beliau akan mengenali kita sebagai umatnya?
Kita mudah menyebut nama Nabi Muhammad SAW, tetapi mengenal seseorang berbeda dengan sekadar tahu namanya. Kita hafal tanggal kelahirannya, namun kadang asing dengan cara beliau memperlakukan orang yang menyakitinya. Kita ramai merayakan hari lahirnya, tetapi belum tentu mengenal kelembutan tutur katanya, kesabarannya menanggung penderitaan, atau betapa beratnya hati beliau ketika melihat umatnya tersesat.
Cinta yang Lahir dari Mengenal, Bukan dari Keramaian
Al-Qur'an melukiskan kepedulian beliau kepada umatnya dengan bahasa yang menggetarkan. Allah berfirman:
ููููุฏู ุฌูุงุกูููู
ู ุฑูุณูููู ู
ููู ุฃูููููุณูููู
ู ุนูุฒููุฒู ุนููููููู ู
ูุง ุนูููุชููู
ู ุญูุฑููุตู ุนูููููููู
ู ุจูุงููู
ูุคูู
ูููููู ุฑูุกูููู ุฑูุญููู
ู
Terjemah makna: Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan kebaikan bagimu, dan amat penyantun lagi penyayang terhadap orang-orang beriman. (QS. At-Taubah: 128)Renungkanlah: penderitaan kita terasa berat di hatinya. Sebelum kita mencintai beliau, ternyata beliau lebih dulu mencintai kita, orang-orang yang bahkan belum pernah beliau temui. Maka pertanyaan malam Maulid bukanlah seberapa meriah perayaan kita, melainkan seberapa dalam kita mengenal cinta yang telah lebih dulu diberikan kepada kita itu.
Qadhi Iyadh, dalam kitabnya yang masyhur Asy-Syifa bi Ta'rif Huquq Al-Musthafa, menegaskan sebuah prinsip yang halus namun mendalam: mencintai Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari iman, dan cinta itu tidak mungkin tumbuh tanpa upaya mengenal siapa beliau sebenarnya. Kitab tersebut ditulis justru untuk memperkenalkan kemuliaan pribadi dan hak-hak beliau, sebab bagaimana mungkin kita mencintai apa yang tidak kita kenal. Cinta sejati, dalam bingkai ini, berawal dari pengenalan, lalu membuahkan pengagungan, dan akhirnya melahirkan sikap mengikuti.
Tanda Cinta Itu Bukan Air Mata, Melainkan Jejak Langkah
Rasulullah sendiri meletakkan cinta kepada beliau sebagai ukuran kesempurnaan iman. Beliau bersabda:
ููุง ููุคูู
ููู ุฃูุญูุฏูููู
ู ุญูุชููู ุฃูููููู ุฃูุญูุจูู ุฅููููููู ู
ููู ููุงููุฏููู ููููููุฏููู ููุงููููุงุณู ุฃูุฌูู
ูุนูููู
Terjemah makna: Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Namun cinta yang beliau maksud bukanlah sekadar getar perasaan yang datang lalu pergi. Cinta itu punya bukti. Allah menurunkan tolok ukurnya dalam firman-Nya:
ูููู ุฅููู ููููุชูู
ู ุชูุญูุจููููู ุงูููููู ููุงุชููุจูุนููููู ููุญูุจูุจูููู
ู ุงูููููู ููููุบูููุฑู ููููู
ู ุฐููููุจูููู
ู
Terjemah makna: Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. (QS. Ali Imran: 31)Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya. Air mata di malam Maulid mudah menetes, tetapi jejak langkah di pagi harinya yang membuktikan segalanya. Mengaku cinta itu ringan di lisan, sedangkan meneladani itu berat di amal. Beliau adalah teladan yang paripurna, sebagaimana Allah tegaskan:
ููููุฏู ููุงูู ููููู
ู ููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุฃูุณูููุฉู ุญูุณูููุฉู
Terjemah makna: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu. (QS. Al-Ahzab: 21)Baca Juga
Ilmu yang Tidak Menetap: Mengapa Adab Didahulukan Sebelum Belajar?
Perspektif Imam Al-Ghazali: Cinta yang Menjelma Akhlak
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menempatkan cinta kepada Rasulullah SAW pada kedudukan yang tinggi dalam perjalanan hati seorang hamba. Baginya, cinta bukan berhenti sebagai rasa, tetapi bergerak menjadi kehendak untuk menyerupai yang dicintai. Orang yang benar-benar mencintai akan terdorong meniru akhlak, adab, dan cara hidup kekasihnya. Maka cinta kepada Nabi mestinya menjelma menjadi kejujuran dalam bicara, kelembutan dalam bersikap, kesabaran dalam ujian, dan kasih sayang kepada sesama.
Pandangan ini melengkapi apa yang ditegaskan Qadhi Iyadh. Jika Asy-Syifa mengajak kita mengenal dan mengagungkan beliau, maka Ihya' mengajak kita menerjemahkan pengagungan itu menjadi perbaikan akhlak sehari-hari. Keduanya bukan dua jalan yang bertentangan, melainkan satu tangga yang saling menyambung: mengenal, lalu mencintai, lalu meneladani. Dan puncak misi kenabian memang di sana, sebagaimana sabda beliau:
ุฅููููู
ูุง ุจูุนูุซูุชู ููุฃูุชูู
ููู
ู ู
ูููุงุฑูู
ู ุงููุฃูุฎูููุงูู
Terjemah makna: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)Menghidupkan Maulid, Bukan Sekadar Menyeremonikannya
Cara umat Islam memperingati kelahiran Nabi memang beragam, dan perbedaan itu berada di wilayah furu', yakni cabang cara beramal, bukan pada inti akidah yang menyatukan kita semua dalam cinta kepada beliau. Yang lebih penting daripada memperdebatkan bentuk perayaan adalah memastikan ruh-nya tidak hilang. Sebab Maulid yang sejati bukan terletak pada meriahnya satu malam, melainkan pada hidupnya sunnah beliau sepanjang tahun.
Salah satu bentuk cinta yang Allah sendiri perintahkan adalah memperbanyak sholawat. Allah berfirman:
ุฅูููู ุงูููููู ููู
ูููุงุฆูููุชููู ููุตููููููู ุนูููู ุงููููุจูููู ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุตูููููุง ุนููููููู ููุณููููู
ููุง ุชูุณููููู
ูุง
Terjemah makna: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)Beliau diutus sebagai rahmat, bukan hanya bagi satu golongan, tetapi bagi semesta alam:
ููู
ูุง ุฃูุฑูุณูููููุงูู ุฅููููุง ุฑูุญูู
ูุฉู ููููุนูุงููู
ูููู
Terjemah makna: Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107) Maka menghidupkan Maulid berarti menyalakan kembali rahmat itu dalam diri kita: menjadi pribadi yang meneduhkan, memaafkan yang menyakiti, dan meringankan beban sesama.Muhasabah di Malam Ini
Sebelum lampu-lampu dipadamkan dan sholawat mereda, ada baiknya kita duduk sejenak dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Berapa banyak sunnah beliau yang benar-benar hidup dalam keseharian kita. Sudahkah lisan kita menjaga kejujuran sebagaimana beliau menjaganya. Sudahkah kita menahan amarah seperti beliau menahannya. Dan ketika nama beliau disebut, apakah hati kita benar-benar bergetar, atau hanya bibir yang bergerak karena kebiasaan.
Malam Maulid yang paling bermakna bukanlah malam yang paling ramai, melainkan malam yang berhasil menggeser sedikit saja hati kita untuk lebih dekat kepada akhlak beliau. Cinta yang sejati tidak berhenti pada perayaan; ia berlanjut menjadi perubahan.
Perjalanan mencintai dan meneladani Nabi Muhammad SAW ini terasa lebih ringan bila ditempuh bersama-sama. Di komunitas AlFatihRPS, ribuan sahabat sedang belajar merawat cinta itu dengan cara yang paling sederhana namun istiqomah: memperbanyak sholawat dan mendekat kepada Al-Qur'an, pelan-pelan tanpa merasa terpaksa. Jika malam ini hati Anda tergerak untuk memulai, lantunkan sholawat bersama di sini sebagai tanda cinta yang tidak berhenti di lisan, tetapi mengalir menjadi amal.
Rujukan Ringkas
- Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab: 21 dan 56, QS. Al-Anbiya: 107, QS. At-Taubah: 128, QS. Ali Imran: 31.
- Hadis: riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang tanda kesempurnaan iman, serta riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi tentang penyempurnaan akhlak.
- Kitab klasik: Asy-Syifa bi Ta'rif Huquq Al-Musthafa karya Qadhi Iyadh, dan Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
- Pembaca dianjurkan mencocokkan kembali pembahasan ini kepada guru, ustadz, atau pembimbing keilmuan terpercaya.